Kamis, 13 Agustus 2009

Seketika Balai Dirampas Badai

Aku masih mengiang setiap tuturmu tentang sebuah kegelisahan hidup yang kau terus pangku. Tatkala hari baru jadi dan berganti. Berganti. Berganti. Dari sedikit ke banyak, kau tawarkan terus padaku. Aku mual dan melimpah, namun tetap kutelan. Seberapa bagiku menyanggupi, taksedikitpun ada dalam kau punya hitungan. Terus. Dan terus.


Malam itu, tak sama sepertimu sama sekali, aku hanya seonggok patung yang kauberikan satu buah telinga. Lalu aku mempertanyakan perkara keadilan. Keadilan untuk berada sepertimu. Aku berteriak hingga lantang. Dalam henti, kuperhatikan dirimu yang asik dalam rayu. Kau acuh atas aku yang tercekik kelantangan. Mengelucak penatku. Sampai aku sadar bahwa suaraku hanya bayang yang tertelan bersama tawaranmu.


Pernah juga aku kau bawa pada keramaian senja. Kau titipkan dikerumunan, lalu kudengar langkahmu menjauh. Sejauh aku yang masih dalam pantauanmu. Terlalu, kupikir ketika itu. Lantas, dengan satu buah telinga yang kau berikan, kudengar renyah tawamu penuh bahgia. Aku tersenyum dalam diri bahwa kau, yang datang seiring mata-pagi, menemu di bagian itu.


Kemudian, kuakrabi diriku dengan kerumunan. Rona senja beriak di muka. Seraya satu per satu menghilang seiring bayang. Dan aku terbawa.


Kini, kau ulang yang dulu lagi. Sebuah cerita yang begitu lekat dikepalaku, rapat, dan takada sedikit celah kau sisa, lagi rona senja masih beriak di muka. Kau tersedu mengingat-kenangkan segala yang dibikin orang atasmu. Sambil menutup kedua telinga dan berbasah air mata, kubiarkan diriku menjadi sandaran atas kepulanganmu dalam segala duka.


Kau terlalu punya konvensi sendiri. Untukmu sendiri dan tak mau berbagi.


Ya. Dan sebentar saja, kita pun kembali bersuka. Kau melupa dengan segala cerita. Sementara aku tertawa dalam penuh tanda tanya. Sampai akhirnya, aku menyadari bahwa aku sepantasnya bersyukur dengan satu buah telinga. Semua itu kembali kepada kemampuanku untuk menyandang jika diberi dua. Kau tertawa. Aku turut juga. Kita bahgia.


Sampai pada sebuah keterpaksaan untuk kuucapkan maaf. Bahwa diriku telah rengkah, sebentar lagi patah, lalu menanah. Badan menua dalam usia. Taklagi mampu kuhisap bisa. Dan dengan satu buah telinga yang masih kujaga, aku larut dari pandanganmu, kau bisu dalam ceritamu.