Rabu, 29 Juni 2011

Kita Pernah Akrab dalam Sementara

Kita pernah akrab dalam sementara. Saling telanjang sampai liar dapat bentang segala. Takada kuasa waktu beri batas pada yang kita laku. Yang kita tau: pacu laju dan hilangkan batas pada siang, pada malam, pada apa yang takperlu orang segala tahu. Kita tembus kabut. Takut menjadi dekat bagai sahabat yang siap memagut kala kita kalut. Dan arah seolah memancing kita punya amarah hingga terus saja kita cercah.


Kita seperti berkongsi dalam emosi. Lalu sepakati bahwa mendiami adalah suatu bentuk meditasi untuk menarik diri kembali. Itu terjadi meskipun takjarang kita salah dalam memberi arti. Setelah itu, kita sama tersadar bahwa hidup adalah sebuah pengejaran sehingga kita lepaskan segala bentuk kelambanan.


Kita punya jiwa takingin penat hanya saja badan lebih sepakat untuk tidak bersepakat. Lalu sebentar kita berehat biar kuat ke depan membebat. Cukuplah itu untuk beri jawab segala yang orang tanya. Setelah itu, kita bermantap-yakin dengan derap langkah untuk karya. Ah! Semesta serasa pasrah untuk kita jamah.


Terkadang, kanak kita muncul tanpa perlu kita ingat pada umur. Lalu satu dari kita harus segera menjadi dewasa untuk bikin seimbang pada kita. Dan kita hanya bisa tertawa, bahkan di balik kepala. Sungguh hal biasa yang begitu luar biasa. Bukan mengada-ada, melainkan fakta yang takperlu dicari bukti untuk dipercaya. Terkadang pula, kita sama seolah takmau mengalah untuk menjadi dewasa. Berkeras kepala dan serahkan saja kanak pada waktu yang tanak hingga keduanya melunak.


Pernah juga kita sekali-dua tersandung pada yang takdiminta. Cuma pada yang akhir kita taksanggup menjadi kebal, mungkin karna cukup bertahan pada bebal. Aku tidak menyesal, hanya kesal pada diri yang takberdaya menyangkal. Hingga di sinilah kita kini. Merapat pada garis final. Lalu mengagungkan bahwa hidup adalah sebuah kesempatan untuk saling kenal sebelum kita benar-benar taklagi mengenal. Haruskah kuucapkan “selamat tinggal”?


 

 

Depok, Juni 2011

Selasa, 14 Juni 2011

Kesepadanan Paranoia

Datang juga kelam. Beri antar malam dengan bulan setengah mengatung di ujung ilalang. Takjauh benar pandang. Hanya ngiang begitu riang mengitar dan menelusup. Dingin bukan lagi dapat patut diaju tanya, melainkan telah laku hingga habis biar ke mana juga hendak mencari. Pelan saja, detak pada detik merangkak dan melebur-larut dalam runut nada. Tanpa beri sedikit sempat ‘tuk merasa liris atau miris. Tersentak dan tersedak, sebentar lagi lain gerak (me-)tampak.


Sementara itu, takada yang tersapu kecuali sapuan itu sendiri yang meronta bagaikan baja dan menggeliat bagaikan kilat. Terus menjurus seperti takingin benar dapat urus. Lalu membiar saja yang bisa tanpa memeduli mampu menepis segala. Kuat mengendap dalam pekat. Celah mengalah.


Memula lagi. Juga tutur-gemutur yang seolah beri gaya pada gagang biar keluar adanya. Teriak terka semakin menipiskan kuasa. Takada pegangan sekitar beri sedia untuk setia. Lumpuh juga dalam harap duduk megah lagi gagah atas pelana sembari memacu dalam tuju yang jauh dari tentu. Hanya tentang yang tajam tinggal tetap (saja). Mengisi lorong kosong nan begitu nirsuara. Menjalar dan mendampar, namun merapat pun tidak sama sekali.


Gemanya antara derap dan siap. Ambil pusing saja karna kaku pada apa yang mau dilaku. Sekali tengadah taklama kembali jengah dan menanah. Bungkam dibalut awan menunggu urai menengarai tanpa perlu turut badai. Dan ‘moga dari satu ke satu tumbuh untuk apa yang diberi nama hidup. Sampai kering segala peluh dan ditimbun dengan/oleh peluh.



Depok, Juni 2011