Seperti yang penuh mengisi setiap pemberitaan di televisi, kau pun mencoba menghadirkannya padaku. Sebuah kenyataan yang hadir dalam bentuk fiksi. Ia merangkak lalu semakin cepat. Tak satupun dari kita sempat mengelak. Lalu dengan menengadahkan kedua telapak tangan, aku terima setiap perangaimu. Dan kau tersenyum sambil berlalu, tak mau sedikit berbagi dengan waktu.
Di ujung itu aku mendengar suara. Antara tegar dan gemetar, tetapi pasti. Begitu ramai. Ku inap-renungkan dari satu ke yang lainnya. Namun, langkahku ditentukan juga oleh pijakanku -kini-. Lalu kucoba bertimbang pikir dengan yang ada. Adanya (me-)paksa. Lagi-lagi, kupertanyakan langkahku. Takada jawaban itu.
Setelah seru menderu, kubayangkan debu di jalan yang akan menggerayangi tubuhmu nantinya. Kau singgah sebentar, katamu, sembari matamu kau tajamkan pada dadaku. Tepat mengena. Lalu kita sama bersunyi –di luarnya-, sementara hatiku mencaci. Ah, kau masih saja tidak mengerti.
Kuhantamkan diriku tepat di ruang ini, tapi bukan pada satu sisi dinding. Bahkan tak kuberani bayangkan untuk yang lebih ngeri. Dengan memaku setiap sudut badan, terbalik pula. Tidak. Tidak, karna di sana telah kutinggalkan darahku dengan cara yang lain pula. Kusangsikan setiap tetes air mata yang kausuguhkan. Dan kuulang yang telah kuucapkan padamu sebelum pergi.
Kini, di senja yang hampir tanak, kuselonjorkan tubuhku di beranda tempat kau lepaskan lingkar lenganku di atas kepala. Kuhitung setiap waktu yang kian menyusut. Sedikit ke sedikit, diriku ditelan oleh ingatan tentang pengembara yang tiba di padang gersang, yang tak ia kenali sama sekali. Dan ia bertanya pada diri, “Masih bisakah kugapai rumahku yang dulu teduh, beri damai, buat nyaman pada diri?” Sgala ingat menariknya ke yang lalu. Ia masih berselimut tanda tanya seraya tak mengerti apa-apa. Apa ia bentuk lain Ahasveros? Atau ia coba mencari Ahasveros? Atau Ahasveros itu sendiri? Ah, sulit untuk tidak terjebak di sini.
Setelahnya, kulihat titik-titik itu menghitam. Baju di badan pun tak cukup menahan dingin. Menggigil, katanya. Menggigil seperti kelengangan kuburan. Lalu kutinggal beranda dengan bisikan tanpa suara. “Aku telah mengubur bangkai itu, sayangku. Yang ‘tika lahir di bawah redup, belajar juga untuk hidup. Begitu dalam. Teramat dalam hingga aku pun taklagi kenal aromanya. Seperti yang selalu kau sajikan untukmu. Kau lihat itu? Jangan kau gali diamnya karna ‘tak kan kita tau siapa penggantinya.”