Ada yang harus berubah memang, bahkan bergerak lalu berpindah. Dari yang satu ke yang lainnya. Menyisa segala ceritera sekalian takkuasa bertahan ada. Tak mampu tetap menapak tapi tak kuat untuk mencampak. Karna kematian bersambut dengan kelahiran. Menyuara lagi kini, segala denging memacu ’linga, segala lalu memenuh ‘pala, segala sesak menyedak dada. Bahwa pada yang kita ukir sudah cair pada bentuk, meski di diri terus mengalir.
Ini kita punya ruang –begitu jauh dari lapang, memang-. Di sini kita bersenang dan bersitegang. Ya, untuk apa yang dibilang kenang, ketika waktu telah bikin diri lekang serta pada segala karya jadi usang. Pada mereka yang mengecap senyap, kita bangun segala harap. Yang kita bikin –beri bukti- tangis pada kelahiran bukan kesiaan.
Kini kita berlepas. Beri sederap harap pada yang baru mendekap. Lalu tanya mengusik bala. Adakah kita masih semesra dulu? Ketika saling pangku dalam penat, berpacu alir keringat? Mempertontonkan kita punya tekad seperti barah mengeruyak mengkhianat. Harap-cemas kita melangkah pada tumpu yang kita derap. Sebab kita tak menghitung jejak. Jejak juga tak mau beranjak.
Jadi, kutulis saja ini, catetan tentang ceritera lama. Bukan pembusung dada. Apalagi menentang langit. Hanya penambah rasa, bahwa bila nanti sayat meluka, mengelucak darah atas karya pada ruang hunian perang. Mari! Pacu laju. Sebentar lagi tiba di setiap tuju. Sekali-dua pasang rindu, meski lekang lagi usang, kita tlah bikin tugu semanis madu.