Jumat, 20 Mei 2011

Drama Pagi: Paradoksal Kebutuhan dan Peraturan


Suasana pagi ini menjadi sesuatu yang luar biasa bagi Saya. Mungkin bagi yang lain adalah sebuah rutinitas atas tuntutan kerja sehingga berdesakan menunggu kedatangan Busway untuk mengantarkan ke tempat kerja menjadi hal yang lumrah bagi mereka. Busway menjadi salah satu alternatif yang cukup menjanjikan untuk hal transportasi saat ini di Jakarta. Hal itu karena semakin sadarnya masyarakat yang tidak menggunakan jasa Busway untuk tidak menelusup ke jalur Busway sehingga perjalanan Busway menjadi lancar. Akan tetapi, jika dilihat ke dalam Buswaynya, akan dapat dirasakan suasana KRL di waktu yang sama, yaitu suasana yang berdesakan karena begitu padatnya muatan Busway. Hal tersebut memberikan bukti bahwa Jakarta sebagai kota Metropolitan memang berisi orang-orang yang berpacu dalam melakukan kerja sehingga harus berdesakan dan takjarang mengantre lama guna kebagian Busway tidak menjadi soal setiap harinya. Saya pun, pagi itu, mengambil peran dalam drama tersebut.


Setelah mengantre cukup lama dengan suasana yang “padat merayap”, Saya pun akhirnya mendapat jatah untuk menumpang Busway dan tentunya dengan suasana yang padat pula. Busway pun melaju. Di tengah perjalanan, Saya yang berdiri di dekat pintu yang tidak akan terbuka ketika Busway berhenti di shelter-nya sesekali melongok keluar untuk menikmati suasana Jakarta pagi ini. Yang Saya dapati ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang Saya saksikan di televisi bahwa macet merupakan hiasan jalan raya untuk setiap kendaraan bermotor, kecuali bagi Busway karena memiliki jalur sendiri meskipun ada juga satu-dua pengendara lain menerobos jalurnya. Sembari menikmati pemandangan tersebut dari balik jendela, Saya pun berharap tidak terlambat sampai di tujuan Saya. Keterlibatan Saya dalam drama pagi ini lantaran ada wawancara kerja di salah satu perusahaan di kawasan Sudirman. Pagi ini menjadi pagi yang luar biasa bagi Saya bukan hanya karena Saya ada wawancara kerja, melainkan juga karena biasanya Saya selalu ke luar di siang hari untuk sebuah kerja paruh waktu sehingga Saya tidak pernah (jarang) menyaksikan pemandangan ini secara langsung. Akhirnya Saya “di sini”, berdiri merapat ke pintu Busway yang tidak akan terbuka ketika Busway nantinya berhenti di shelter di antara orang-orang yang juga berpacu dengan waktu dengan keringat segar mengucur dari tubuh yang masih segar pada hari yang masih segar pula.

Rabu, 04 Mei 2011

New York: Mengembalikan Kuasa Diri pada Diri Sendiri

NEW YORK, 1971

Hafalkan namamu baik-baik di sini. Setelah baja
dan semen yang megatur langkah kita, lampu-lampu
dan kaca. Langit hanya dalam batin kita,
tersimpan setia dari lembah-lembah di mana kau dan aku
lahir, semakin biru dalam dahaga.
Hafalkan namamu. Tikungan demi tikungan,
warna demi warna tanda-tanda jalanan yang menunjuk
ke arah kita, yang kemudian menjanjikan
arah yang kabur
ke tempat-tempat yang dulu pernah ada
dalam mimpi kanak-kanak kita. Berjalanlah merapat tembok
sambil mengulang-ulang menyebut nama tempat
dan tanggal lahirmu sendiri, sampai di persimpangan
ujung jalan itu, yang menjurus ke segala arah
sambil menolak arah, ketika semakin banyak juga
orang-orang di sekitar kita, dan terasa bahwa
sepenuhnya sendiri. Kemudian bersiaplah
dengan jawaban-jawaban itu.
Tetapi kaudengarkah swara-swara itu?

(Sapardi Djoko Damono)




Sajak tersebut merupakan sebuah peringatan dari si aku untuk pembaca. Si aku mencoba mengingatkan bahwa tak mudah seseorang itu untuk kehilangan dirinya sendiri. Kehilangan diri sendiri ini disebabkan oleh mudahnya kita terpengaruh oleh orang lain sehingga segala sesuatu yang telah kita mantapkan dalam diri kita pun harus luntur dan mengikuti pengaruh yang belum tentu memberikan keuntungan bagi kita. Si aku juga megingatkan bahwa untuk mempertahankan diri tersebut bukanlah sebuah hal yang mudah mengingat kuatnya godaan-godaan di luar diri.


Si aku meningatkan pembaca untuk mengingat namanya sendiri dengan baik-baik. Jika dilihat sepintas, ada gurauan dalam bagian ini, karena siapa yang akan sebegitu bodohnya untuk melupa pada namanya sendiri? Justru, karena nama merupakan sesuatu yang sangat melekat pada diri seseorang, si aku mencoba mempermainkannya dalam pikiran pembaca. Nama yang dimaksudkan si aku adalah diri pembaca sendiri. Si aku menyuruh pembaca untuk benar-benar tidak sampai lupa diri. Di sini, suatu tempat yang begitu maju dengan segalanya (New York). Keberhasilan yang dicapai atas usaha yang dilakukan diwakili oleh aku dengan kata “di sini”.