Kamis, 30 Desember 2010

Jika Memang di Sini Kita (Harus) Berhenti

Jika memang di sini kita (harus) berhenti, aku tidak bisa berkata-kata lagi. Atau mungkin aku tidak mau berkata apa-apa lagi. Begini aku hadir, dengan segala keterbatasan selalu mencoba menembus batas lalu kembali dihempas oleh batas. Waktu mengajakku berpulang. Menikmati segala yang telah membentang. Aku nyaris mati tapi lelap dalam kubur sebelum kau datang dengan godam hingga rengkah segala kubur dan kau memandikanku dalam api. Aku tidak terbakar, hanya menyala yang membuatku lupa seberapa kelam yang membuatku ada.


Jika memang di sini kita (harus) berhenti, biarkan sekali ini aku menoleh. Melihat rumahku yang begitu terang dalam unggun yang anggun. Ia lembut dalam amuk hingga melahirkan misteri-misteri lain yang – masih--  takkumengerti. Takkan kuambil apa, sebab kubiarkan terlahap segala demi menjadi aku. Sebuah peleburan yang menyadarkan kembali pada ketiadaan. Lalu aku akan mencari-cari ingatan.


Jika memang di sini kita (harus) berhenti, ada pindah yang takkusadari seberapa penting akan ini. Kita masih membahasakan tanpa mampu membinasakan. Mempelajari tiap lekuk perjalanan yang beri antar kita pada titik semestinya dan membuat kita terus sama bertanya. Pada patahan-patahan di luar jangkauan, kuasa atas segala ketiba-tibaan. Antara kita, kuat dongak dalam tundukan.


Jika memang di sini kita (harus) berhenti, aku minta diri. Pergi. Berlari. Jenuh terbunuh. Terbaring dalam peti, yang dibilang orang mati.


 

Satu Gelas Lagi dan Kita Mulai Menari

Tolong beri tahu aku, kawan. Beri tahu aku bagaimana cara mengingat tawamu dulu. Seperti yang kau lakukan padaku, untuk mengingat namaku sendiri. Ketika itu, aku rokok, kau api, atau sebaliknya, dan kita menjadi. Segala dunia kita pijak sembari kita jadikan asbak.


Kau asik sendiri dalam kekinianmu, kawan. Asik yang tak dapat dimengerti aku sama sekali. Begitu sulit menembus kerapuhan bentengmu. Biar acap kali ku sintuh, kau takacuh. Dan kau berhak untuk hidup pada siang, pada malam, pada getar jemari mengiring dawai sebelum kau terkulai.


Ajak aku, kawan. Ajak aku seperti dulu. Ketika kuat untuk tidak bunuh diri. Atau mencari-cari waktu yang tepat untuk bunuh diri. Atau ketika sama menyusupi jalinan penjara terindah di sudut kota, berdinding kaca, beratap senja. Untuk apa? Untuk sesuatu yang hanya kita dan cuma kita mengerti, biarpun tak pernah kita umbar, bahkan pada kita sendiri.


Meminta aku satu, kawan. Sebelum hari mati dan jiwa menari di lain dimensi.


Ingatkan lagi kawan bahwa ini masih namaku.