Malam ini aku ingin melihat bulan, takapa meskipun di sela dedaunan. Tapi bagaimana caranya bila langit pun menjadi kepingan aneh dikoyak galaknya beton bertinggi tegak? Sementara udara pengantar aroma bulan hanya bikin dada sesak. Bukankah lebih bijak pilihan pucuk untuk menua di lapak tanah dibanding kupak di ketinggian oleh udara rusak? Lalu di mana kesadaran untuk takcukup membiarkan?
Seketika, pikirku terlempar pada dunia kecilku berindang keliling. Udara bagaikan susu yang beri tawar pada racun, sedangkan bayang-bayang biasan cahya bulan menampak nyata. Lalu berkejaranlah aku di situ sampai lupa waktu. Takpeduli di plangkin sekali pun. Yang kutahu, ini waktu akan berlalu dan setelahnya kupasrahkan pada giringan nasib setegap langkah menderap.
Aku melena. Lena yang begitu sadar dalam sementara. Untuk kembali dalam tersentak pula pada khayalan menyata.
Kulupakan lelah sekadar mencari celah. Biar dapat kuluapkan hasrat yang penasaran menemu pantulan rahim cahya murni yang kalah karna cahya lain. Ada kutemu setapak yang beri harap ‘tuk kujelang masa sebelum waktuku matang. Adanya, aku terlempar pada yang itu-itu saja. Menghampar rona yang sama seolah takada nama untuk sempat.
Inginku takkalah. Terus saja kutelusuri ini jalan berharap makin selangkah dekat akan bulan. Sementara malam makin meninggi, aku tidak menghafalkan arah langkah kaki lagi. Sekelebat angin sempat mengembus kening, tapi aku heran, bagaimana bisa ia begitu tajam menelusup ke rongga hidung? Hingga sejenak kuremas keras dada berharap takkan ke dalam meluka. Ah! Biarlah, pikirku, toh hasrat menemu bulan lebih kuat untuk sebentar melupa pada badan.
Malam kian lebih dari meninggi. Akankah bulan sedia menanti? Aku mulai gila dalam ilusi, berharap bulan dengar aku punya bualan. Ini taksekali terjadi tapi kali ini ingin sekali, ditikam tajamnya sibakan hingga silau mengilat mata biar tenang aku berebah pada waktu yang taktentu, setelah itu.
Meremang lapang jauh di muka. Aku bersuka akan penantian yang ‘kan segera tiba. Membuka mata leluasa. Menghampar padang takterkira. Lambat lari makin menguat, sedang mata segerah soda takingin mengatup. Dan kini, aku berlabuh setelah jauh langkah mengayuh dan taksedikit mengalir peluh. Keleluasaan pandang tanpa ada bagak yang menghalang. Kulihat sekeliling pun ikut bersuka-ceria, bersinar terang dari yang sudah-sudah. Aku mendongak, tapi tersentak yang bikin terhenyak bahwa malam melambai dari kejauhan. Takada yang kuberi makna, selain kubisikkan dalam-dalam, ke dalam aku, aku ingin melihat bulan.
Depok, Juli 2011
