Senin, 18 Juli 2011

Malam Ini Aku Ingin Melihat Bulan

Malam ini aku ingin melihat bulan, takapa meskipun di sela dedaunan. Tapi bagaimana caranya bila langit pun menjadi kepingan aneh dikoyak galaknya beton bertinggi tegak? Sementara udara pengantar aroma bulan hanya bikin dada sesak. Bukankah lebih bijak pilihan pucuk untuk menua di lapak tanah dibanding kupak di ketinggian oleh udara rusak? Lalu di mana kesadaran untuk takcukup membiarkan?


Seketika, pikirku terlempar pada dunia kecilku berindang keliling. Udara bagaikan susu yang beri tawar pada racun, sedangkan bayang-bayang biasan cahya bulan menampak nyata. Lalu berkejaranlah aku di situ sampai lupa waktu. Takpeduli di plangkin sekali pun. Yang kutahu, ini waktu akan berlalu dan setelahnya kupasrahkan pada giringan nasib setegap langkah menderap.


Aku melena. Lena yang begitu sadar dalam sementara. Untuk kembali dalam tersentak pula pada khayalan menyata.


Kulupakan lelah sekadar mencari celah. Biar dapat kuluapkan hasrat yang penasaran menemu pantulan rahim cahya murni yang kalah karna cahya lain. Ada kutemu setapak yang beri harap ‘tuk kujelang masa sebelum waktuku matang. Adanya, aku terlempar pada yang itu-itu saja. Menghampar rona yang sama  seolah takada nama untuk sempat.


Inginku takkalah. Terus saja kutelusuri ini jalan berharap makin selangkah dekat akan bulan. Sementara malam makin meninggi, aku tidak menghafalkan arah langkah kaki lagi. Sekelebat angin sempat mengembus kening, tapi aku heran, bagaimana bisa ia begitu tajam menelusup ke rongga hidung? Hingga sejenak kuremas keras dada berharap takkan ke dalam meluka. Ah! Biarlah, pikirku, toh hasrat menemu bulan lebih kuat untuk sebentar melupa pada badan.


Malam kian lebih dari meninggi. Akankah bulan sedia menanti? Aku mulai gila dalam ilusi, berharap bulan dengar aku punya bualan. Ini taksekali terjadi tapi kali ini ingin sekali, ditikam tajamnya sibakan hingga silau mengilat mata biar tenang aku berebah pada waktu yang taktentu, setelah itu.


Meremang lapang jauh di muka. Aku bersuka akan penantian yang ‘kan segera tiba. Membuka mata leluasa. Menghampar padang takterkira. Lambat lari makin menguat, sedang mata segerah soda takingin mengatup. Dan kini, aku berlabuh setelah jauh langkah mengayuh dan taksedikit mengalir peluh. Keleluasaan pandang tanpa ada bagak yang menghalang. Kulihat  sekeliling pun ikut bersuka-ceria, bersinar terang dari yang sudah-sudah. Aku mendongak, tapi tersentak yang bikin terhenyak bahwa malam melambai dari kejauhan. Takada yang kuberi makna, selain kubisikkan dalam-dalam, ke dalam aku, aku ingin melihat bulan.


 


 


Depok, Juli 2011

Rabu, 29 Juni 2011

Kita Pernah Akrab dalam Sementara

Kita pernah akrab dalam sementara. Saling telanjang sampai liar dapat bentang segala. Takada kuasa waktu beri batas pada yang kita laku. Yang kita tau: pacu laju dan hilangkan batas pada siang, pada malam, pada apa yang takperlu orang segala tahu. Kita tembus kabut. Takut menjadi dekat bagai sahabat yang siap memagut kala kita kalut. Dan arah seolah memancing kita punya amarah hingga terus saja kita cercah.


Kita seperti berkongsi dalam emosi. Lalu sepakati bahwa mendiami adalah suatu bentuk meditasi untuk menarik diri kembali. Itu terjadi meskipun takjarang kita salah dalam memberi arti. Setelah itu, kita sama tersadar bahwa hidup adalah sebuah pengejaran sehingga kita lepaskan segala bentuk kelambanan.


Kita punya jiwa takingin penat hanya saja badan lebih sepakat untuk tidak bersepakat. Lalu sebentar kita berehat biar kuat ke depan membebat. Cukuplah itu untuk beri jawab segala yang orang tanya. Setelah itu, kita bermantap-yakin dengan derap langkah untuk karya. Ah! Semesta serasa pasrah untuk kita jamah.


Terkadang, kanak kita muncul tanpa perlu kita ingat pada umur. Lalu satu dari kita harus segera menjadi dewasa untuk bikin seimbang pada kita. Dan kita hanya bisa tertawa, bahkan di balik kepala. Sungguh hal biasa yang begitu luar biasa. Bukan mengada-ada, melainkan fakta yang takperlu dicari bukti untuk dipercaya. Terkadang pula, kita sama seolah takmau mengalah untuk menjadi dewasa. Berkeras kepala dan serahkan saja kanak pada waktu yang tanak hingga keduanya melunak.


Pernah juga kita sekali-dua tersandung pada yang takdiminta. Cuma pada yang akhir kita taksanggup menjadi kebal, mungkin karna cukup bertahan pada bebal. Aku tidak menyesal, hanya kesal pada diri yang takberdaya menyangkal. Hingga di sinilah kita kini. Merapat pada garis final. Lalu mengagungkan bahwa hidup adalah sebuah kesempatan untuk saling kenal sebelum kita benar-benar taklagi mengenal. Haruskah kuucapkan “selamat tinggal”?


 

 

Depok, Juni 2011

Selasa, 14 Juni 2011

Kesepadanan Paranoia

Datang juga kelam. Beri antar malam dengan bulan setengah mengatung di ujung ilalang. Takjauh benar pandang. Hanya ngiang begitu riang mengitar dan menelusup. Dingin bukan lagi dapat patut diaju tanya, melainkan telah laku hingga habis biar ke mana juga hendak mencari. Pelan saja, detak pada detik merangkak dan melebur-larut dalam runut nada. Tanpa beri sedikit sempat ‘tuk merasa liris atau miris. Tersentak dan tersedak, sebentar lagi lain gerak (me-)tampak.


Sementara itu, takada yang tersapu kecuali sapuan itu sendiri yang meronta bagaikan baja dan menggeliat bagaikan kilat. Terus menjurus seperti takingin benar dapat urus. Lalu membiar saja yang bisa tanpa memeduli mampu menepis segala. Kuat mengendap dalam pekat. Celah mengalah.


Memula lagi. Juga tutur-gemutur yang seolah beri gaya pada gagang biar keluar adanya. Teriak terka semakin menipiskan kuasa. Takada pegangan sekitar beri sedia untuk setia. Lumpuh juga dalam harap duduk megah lagi gagah atas pelana sembari memacu dalam tuju yang jauh dari tentu. Hanya tentang yang tajam tinggal tetap (saja). Mengisi lorong kosong nan begitu nirsuara. Menjalar dan mendampar, namun merapat pun tidak sama sekali.


Gemanya antara derap dan siap. Ambil pusing saja karna kaku pada apa yang mau dilaku. Sekali tengadah taklama kembali jengah dan menanah. Bungkam dibalut awan menunggu urai menengarai tanpa perlu turut badai. Dan ‘moga dari satu ke satu tumbuh untuk apa yang diberi nama hidup. Sampai kering segala peluh dan ditimbun dengan/oleh peluh.



Depok, Juni 2011

Jumat, 20 Mei 2011

Drama Pagi: Paradoksal Kebutuhan dan Peraturan


Suasana pagi ini menjadi sesuatu yang luar biasa bagi Saya. Mungkin bagi yang lain adalah sebuah rutinitas atas tuntutan kerja sehingga berdesakan menunggu kedatangan Busway untuk mengantarkan ke tempat kerja menjadi hal yang lumrah bagi mereka. Busway menjadi salah satu alternatif yang cukup menjanjikan untuk hal transportasi saat ini di Jakarta. Hal itu karena semakin sadarnya masyarakat yang tidak menggunakan jasa Busway untuk tidak menelusup ke jalur Busway sehingga perjalanan Busway menjadi lancar. Akan tetapi, jika dilihat ke dalam Buswaynya, akan dapat dirasakan suasana KRL di waktu yang sama, yaitu suasana yang berdesakan karena begitu padatnya muatan Busway. Hal tersebut memberikan bukti bahwa Jakarta sebagai kota Metropolitan memang berisi orang-orang yang berpacu dalam melakukan kerja sehingga harus berdesakan dan takjarang mengantre lama guna kebagian Busway tidak menjadi soal setiap harinya. Saya pun, pagi itu, mengambil peran dalam drama tersebut.


Setelah mengantre cukup lama dengan suasana yang “padat merayap”, Saya pun akhirnya mendapat jatah untuk menumpang Busway dan tentunya dengan suasana yang padat pula. Busway pun melaju. Di tengah perjalanan, Saya yang berdiri di dekat pintu yang tidak akan terbuka ketika Busway berhenti di shelter-nya sesekali melongok keluar untuk menikmati suasana Jakarta pagi ini. Yang Saya dapati ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang Saya saksikan di televisi bahwa macet merupakan hiasan jalan raya untuk setiap kendaraan bermotor, kecuali bagi Busway karena memiliki jalur sendiri meskipun ada juga satu-dua pengendara lain menerobos jalurnya. Sembari menikmati pemandangan tersebut dari balik jendela, Saya pun berharap tidak terlambat sampai di tujuan Saya. Keterlibatan Saya dalam drama pagi ini lantaran ada wawancara kerja di salah satu perusahaan di kawasan Sudirman. Pagi ini menjadi pagi yang luar biasa bagi Saya bukan hanya karena Saya ada wawancara kerja, melainkan juga karena biasanya Saya selalu ke luar di siang hari untuk sebuah kerja paruh waktu sehingga Saya tidak pernah (jarang) menyaksikan pemandangan ini secara langsung. Akhirnya Saya “di sini”, berdiri merapat ke pintu Busway yang tidak akan terbuka ketika Busway nantinya berhenti di shelter di antara orang-orang yang juga berpacu dengan waktu dengan keringat segar mengucur dari tubuh yang masih segar pada hari yang masih segar pula.

Rabu, 04 Mei 2011

New York: Mengembalikan Kuasa Diri pada Diri Sendiri

NEW YORK, 1971

Hafalkan namamu baik-baik di sini. Setelah baja
dan semen yang megatur langkah kita, lampu-lampu
dan kaca. Langit hanya dalam batin kita,
tersimpan setia dari lembah-lembah di mana kau dan aku
lahir, semakin biru dalam dahaga.
Hafalkan namamu. Tikungan demi tikungan,
warna demi warna tanda-tanda jalanan yang menunjuk
ke arah kita, yang kemudian menjanjikan
arah yang kabur
ke tempat-tempat yang dulu pernah ada
dalam mimpi kanak-kanak kita. Berjalanlah merapat tembok
sambil mengulang-ulang menyebut nama tempat
dan tanggal lahirmu sendiri, sampai di persimpangan
ujung jalan itu, yang menjurus ke segala arah
sambil menolak arah, ketika semakin banyak juga
orang-orang di sekitar kita, dan terasa bahwa
sepenuhnya sendiri. Kemudian bersiaplah
dengan jawaban-jawaban itu.
Tetapi kaudengarkah swara-swara itu?

(Sapardi Djoko Damono)




Sajak tersebut merupakan sebuah peringatan dari si aku untuk pembaca. Si aku mencoba mengingatkan bahwa tak mudah seseorang itu untuk kehilangan dirinya sendiri. Kehilangan diri sendiri ini disebabkan oleh mudahnya kita terpengaruh oleh orang lain sehingga segala sesuatu yang telah kita mantapkan dalam diri kita pun harus luntur dan mengikuti pengaruh yang belum tentu memberikan keuntungan bagi kita. Si aku juga megingatkan bahwa untuk mempertahankan diri tersebut bukanlah sebuah hal yang mudah mengingat kuatnya godaan-godaan di luar diri.


Si aku meningatkan pembaca untuk mengingat namanya sendiri dengan baik-baik. Jika dilihat sepintas, ada gurauan dalam bagian ini, karena siapa yang akan sebegitu bodohnya untuk melupa pada namanya sendiri? Justru, karena nama merupakan sesuatu yang sangat melekat pada diri seseorang, si aku mencoba mempermainkannya dalam pikiran pembaca. Nama yang dimaksudkan si aku adalah diri pembaca sendiri. Si aku menyuruh pembaca untuk benar-benar tidak sampai lupa diri. Di sini, suatu tempat yang begitu maju dengan segalanya (New York). Keberhasilan yang dicapai atas usaha yang dilakukan diwakili oleh aku dengan kata “di sini”.

Senin, 18 April 2011

Euforia dalam Ketaksabanan

Lalu, di sini yang ada (yakni) tentang sesuatu yang takdapat dibeli. Takpeduli, seberapa jauh kau mencari. Ada hal-hal yang perlu kau gali meskipun secara tidak sengaja terkubur oleh tuntutan yang kau hausi. Di sini, tegap-tegar galian kubur. Takperlu hitung ini ‘kan sejauh mana karena hari ini takkan ada kemarin ataupun esok. Yang muncul adalah harapan meskipun kadang perencanaan hanya akan menjadi sesuatu yang usang lalu lekang dan hilang.


Bahwa Aku-lah si pencari terang dan berusaha menciptanya dalam apa pun. Ini tanpa binaan, hanya waktu beri peluang untuk takperlu kubahasakan.


Kita perlebar senyum hingga rengkah tawa meskipun kita takpercaya bahwa itu dapat beri tawa. Akan tetapi, toh inilah kita. Mungkin kita sama-sama bahagia sehingga tanpa sadar bahwa kita punya mata lenyap pada kondisi itu.


Seperti waktu, akhirnya kita melaju dengan masing-masing. Lalu, temukan lagi peristiwa kita dalam semarak dunia.


Jakarta, 30 Maret 2011