Selasa, 27 Oktober 2009

Catetan Tentang Ceritera Lama

Ada yang harus berubah memang, bahkan bergerak lalu berpindah. Dari yang satu ke yang lainnya. Menyisa segala ceritera sekalian takkuasa bertahan ada. Tak mampu tetap menapak tapi tak kuat untuk mencampak. Karna kematian bersambut dengan kelahiran. Menyuara lagi kini, segala denging memacu ’linga, segala lalu memenuh ‘pala, segala sesak menyedak dada. Bahwa pada yang kita ukir sudah cair pada bentuk, meski di diri terus mengalir.


Ini kita punya ruang –begitu jauh dari lapang, memang-. Di sini kita bersenang dan bersitegang. Ya, untuk apa yang dibilang kenang, ketika waktu telah bikin diri lekang serta pada segala karya jadi usang. Pada mereka yang mengecap senyap, kita bangun segala harap. Yang kita bikin –beri bukti- tangis pada kelahiran bukan kesiaan.


Kini kita berlepas. Beri sederap harap pada yang baru mendekap. Lalu tanya mengusik bala. Adakah kita masih semesra dulu? Ketika saling pangku dalam penat, berpacu alir keringat? Mempertontonkan kita punya tekad seperti barah mengeruyak mengkhianat. Harap-cemas kita melangkah pada tumpu yang kita derap. Sebab kita tak menghitung jejak. Jejak juga tak mau beranjak.


Jadi, kutulis saja ini, catetan tentang ceritera lama. Bukan pembusung dada. Apalagi menentang langit. Hanya penambah rasa, bahwa bila nanti sayat meluka, mengelucak darah atas karya pada ruang hunian perang. Mari! Pacu laju. Sebentar lagi tiba di setiap tuju. Sekali-dua pasang rindu, meski lekang lagi usang, kita tlah bikin tugu semanis madu.

Kamis, 13 Agustus 2009

Seketika Balai Dirampas Badai

Aku masih mengiang setiap tuturmu tentang sebuah kegelisahan hidup yang kau terus pangku. Tatkala hari baru jadi dan berganti. Berganti. Berganti. Dari sedikit ke banyak, kau tawarkan terus padaku. Aku mual dan melimpah, namun tetap kutelan. Seberapa bagiku menyanggupi, taksedikitpun ada dalam kau punya hitungan. Terus. Dan terus.


Malam itu, tak sama sepertimu sama sekali, aku hanya seonggok patung yang kauberikan satu buah telinga. Lalu aku mempertanyakan perkara keadilan. Keadilan untuk berada sepertimu. Aku berteriak hingga lantang. Dalam henti, kuperhatikan dirimu yang asik dalam rayu. Kau acuh atas aku yang tercekik kelantangan. Mengelucak penatku. Sampai aku sadar bahwa suaraku hanya bayang yang tertelan bersama tawaranmu.


Pernah juga aku kau bawa pada keramaian senja. Kau titipkan dikerumunan, lalu kudengar langkahmu menjauh. Sejauh aku yang masih dalam pantauanmu. Terlalu, kupikir ketika itu. Lantas, dengan satu buah telinga yang kau berikan, kudengar renyah tawamu penuh bahgia. Aku tersenyum dalam diri bahwa kau, yang datang seiring mata-pagi, menemu di bagian itu.


Kemudian, kuakrabi diriku dengan kerumunan. Rona senja beriak di muka. Seraya satu per satu menghilang seiring bayang. Dan aku terbawa.


Kini, kau ulang yang dulu lagi. Sebuah cerita yang begitu lekat dikepalaku, rapat, dan takada sedikit celah kau sisa, lagi rona senja masih beriak di muka. Kau tersedu mengingat-kenangkan segala yang dibikin orang atasmu. Sambil menutup kedua telinga dan berbasah air mata, kubiarkan diriku menjadi sandaran atas kepulanganmu dalam segala duka.


Kau terlalu punya konvensi sendiri. Untukmu sendiri dan tak mau berbagi.


Ya. Dan sebentar saja, kita pun kembali bersuka. Kau melupa dengan segala cerita. Sementara aku tertawa dalam penuh tanda tanya. Sampai akhirnya, aku menyadari bahwa aku sepantasnya bersyukur dengan satu buah telinga. Semua itu kembali kepada kemampuanku untuk menyandang jika diberi dua. Kau tertawa. Aku turut juga. Kita bahgia.


Sampai pada sebuah keterpaksaan untuk kuucapkan maaf. Bahwa diriku telah rengkah, sebentar lagi patah, lalu menanah. Badan menua dalam usia. Taklagi mampu kuhisap bisa. Dan dengan satu buah telinga yang masih kujaga, aku larut dari pandanganmu, kau bisu dalam ceritamu.

Minggu, 05 Juli 2009

Kembara dan Rumah Tinggal

Seperti yang penuh mengisi setiap pemberitaan di televisi, kau pun mencoba menghadirkannya padaku. Sebuah kenyataan yang hadir dalam bentuk fiksi. Ia merangkak lalu semakin cepat. Tak satupun dari kita sempat mengelak. Lalu dengan menengadahkan kedua telapak tangan, aku terima setiap perangaimu. Dan kau tersenyum sambil berlalu, tak mau sedikit berbagi dengan waktu.



Di ujung itu aku mendengar suara. Antara tegar dan gemetar, tetapi pasti. Begitu ramai. Ku inap-renungkan dari satu ke yang lainnya. Namun, langkahku ditentukan juga oleh pijakanku -kini-. Lalu kucoba bertimbang pikir dengan yang ada. Adanya (me-)paksa. Lagi-lagi, kupertanyakan langkahku. Takada jawaban itu.



Setelah seru menderu, kubayangkan debu di jalan yang akan menggerayangi tubuhmu nantinya. Kau singgah sebentar, katamu, sembari matamu kau tajamkan pada dadaku. Tepat mengena. Lalu kita sama bersunyi –di luarnya-, sementara hatiku mencaci. Ah, kau masih saja tidak mengerti.



Kuhantamkan diriku tepat di ruang ini, tapi bukan pada satu sisi dinding. Bahkan tak kuberani bayangkan untuk yang lebih ngeri. Dengan memaku setiap sudut badan, terbalik pula. Tidak. Tidak, karna di sana telah kutinggalkan darahku dengan cara yang lain pula. Kusangsikan setiap tetes air mata yang kausuguhkan. Dan kuulang yang telah kuucapkan padamu sebelum pergi.



Kini, di senja yang hampir tanak, kuselonjorkan tubuhku di beranda tempat kau lepaskan lingkar lenganku di atas kepala. Kuhitung setiap waktu yang kian menyusut. Sedikit ke sedikit, diriku ditelan oleh ingatan tentang pengembara yang tiba di padang gersang, yang tak ia kenali sama sekali. Dan ia bertanya pada diri, “Masih bisakah kugapai rumahku yang dulu teduh, beri damai, buat nyaman pada diri?” Sgala ingat menariknya ke yang lalu. Ia masih berselimut tanda tanya seraya tak mengerti apa-apa. Apa ia bentuk lain Ahasveros? Atau ia coba mencari Ahasveros? Atau Ahasveros itu sendiri? Ah, sulit untuk tidak terjebak di sini.



Setelahnya, kulihat titik-titik itu menghitam. Baju di badan pun tak cukup menahan dingin. Menggigil, katanya. Menggigil seperti kelengangan kuburan. Lalu kutinggal beranda dengan bisikan tanpa suara. “Aku telah mengubur bangkai itu, sayangku. Yang ‘tika lahir di bawah redup, belajar juga untuk hidup. Begitu dalam. Teramat dalam hingga aku pun taklagi kenal aromanya. Seperti yang selalu kau sajikan untukmu. Kau lihat itu? Jangan kau gali diamnya karna ‘tak kan kita tau siapa penggantinya.”

Rabu, 01 Juli 2009

Kepada yang mendewai

Teruntuk tangisan sepanjang malam sepanjang hari


Bertuturlah dengan segala yang telah ada. Ketika merasa bahwa yang lain takada. Bahkan mimpi pun terwujud ketika peluh kering oleh ketakutan. Tuntutan. Sebelumnya mungkin tertidur –keyakinan taksedikit ambil peran-, sebelum benar-benar tahu apa itu angka dan berkata-kata. Melangkah pun masih gontai dalam engahan nafas pula. Ah, berani juga meng-aku-diri. Menampak kaca. Membusung jejak. Seberapa sanggup jika sekadar aku-diri. Congkak, toh tanpa angin debu-debu tak ‘kan berhamburan. Mengekor saja pada ketidaktahuan serba taktentu. Serasa benar-benar mata sebagai sebuah bola. Berputar ke segala arah. Mengintip. Menguntit. Lalu menyalin bersegera. Otak ditimang dalam laguan “nina bobok”. Terjaga, lalu berjalan dengan kelumpuhan.


Dalam lumpur pula kerbau bersembunyi. Busuk tak terperi dalam kucuran air mata tuan pada setiap pori. Menengadah ketika tuan terkapar dalam merdeka. Dera-derita sudah menjadi bahan pertimbangan, mendarah daging bagi tuan. Tuan benar tahan. Kerbau angkat bendera. Di tangan tuan, senjata berselimut darah. Pematang bukan lagi tepat untuk berpijak, bahkan menjingkat. Lumpur jadi pematang atau pematang bermunggah Lumpur? Keduanya kerbau punya kerja. Dengan cita dan rencana, tuan pulang dalam lenggang takterberi arti. Menimba sumur. Bermandi lumpur. Seketika deru-menderu, sorak-sorai. Kerbau mengarak pawai. Dalam Lumpur, lagi tuan menimba sumur.


Nyatalah terjaga. Mimpi buruk siapa ingin punya. Sementara dunia tak sekadar tempurung. Luas dalam mata, tak muat dalam pikiran. Setelah dada bengkak menahan air mata, kini membusung dalam tumpangan. Kasihan akan ketidaksadaran yang tidak berkesudahan pula. Meng-iya saja, biar semakin telanjang ada-nya. Biar sadar makna tanda tanya.


Berkoarlah. Teriakkan bahwa dunia sudah ditangan. Telah ambil bagian dalam kuasa. Teruslah, teruslah ingat dan jangan sampai lupa. Bau-mu telah dimiliki semua orang. Sebentar lagi katarak bercampur nanah. Nikmati saja. Satu tanya kau binasa.


Selamat kepada dewa.

Minggu, 28 Juni 2009

Hermetic

Ada yang harus datang dan ada yang harus pergi. Meninggalkan atau ditinggalkan. Memberi dan diberi. Mengingat setiap langkah mempunyai jejak, mari pelajari sgala yang ada jejak. Aku bermenung dalam waktu yang kumau tahu ketika harus kubolak-balik sgala otak yang sempat kupunya. Mutiara baru satu aku berpunya dan kelam kuasa selimut mutiara. Hilang. Tak terlihat. Hermetic. Tak terjangkau. Angin tak sekadar dingin. Ayunkan tangan dan kaki lagi melangkah. Bertanya pada diri, pada siapa jawab tercari. Ya, aku mencari ke sudut yang tak diketahui, namun duka tak tau siapa punya lagi kuasa. Kadang datang. Kadang pergi. Kadang cuma bayang. Sama saja, tak juga terjangkau dari tangan yang meracau. Tempat tak kutahu di mana entah. Pasti tak menemu bila tercari. Berbagilah. Berbagilah biar sedikit terkecap gerak yang tak sempat kurasa. Di mata menggenang, merah bawahnya, dan bagaimanapun juga, bila tak kutahu di mananya.