Tolong beri tahu aku, kawan. Beri tahu aku bagaimana cara mengingat tawamu dulu. Seperti yang kau lakukan padaku, untuk mengingat namaku sendiri. Ketika itu, aku rokok, kau api, atau sebaliknya, dan kita menjadi. Segala dunia kita pijak sembari kita jadikan asbak.
Kau asik sendiri dalam kekinianmu, kawan. Asik yang tak dapat dimengerti aku sama sekali. Begitu sulit menembus kerapuhan bentengmu. Biar acap kali ku sintuh, kau takacuh. Dan kau berhak untuk hidup pada siang, pada malam, pada getar jemari mengiring dawai sebelum kau terkulai.
Ajak aku, kawan. Ajak aku seperti dulu. Ketika kuat untuk tidak bunuh diri. Atau mencari-cari waktu yang tepat untuk bunuh diri. Atau ketika sama menyusupi jalinan penjara terindah di sudut kota, berdinding kaca, beratap senja. Untuk apa? Untuk sesuatu yang hanya kita dan cuma kita mengerti, biarpun tak pernah kita umbar, bahkan pada kita sendiri.
Meminta aku satu, kawan. Sebelum hari mati dan jiwa menari di lain dimensi.
Ingatkan lagi kawan bahwa ini masih namaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar