Jika memang di sini kita (harus) berhenti, aku tidak bisa berkata-kata lagi. Atau mungkin aku tidak mau berkata apa-apa lagi. Begini aku hadir, dengan segala keterbatasan selalu mencoba menembus batas lalu kembali dihempas oleh batas. Waktu mengajakku berpulang. Menikmati segala yang telah membentang. Aku nyaris mati tapi lelap dalam kubur sebelum kau datang dengan godam hingga rengkah segala kubur dan kau memandikanku dalam api. Aku tidak terbakar, hanya menyala yang membuatku lupa seberapa kelam yang membuatku ada.
Jika memang di sini kita (harus) berhenti, biarkan sekali ini aku menoleh. Melihat rumahku yang begitu terang dalam unggun yang anggun. Ia lembut dalam amuk hingga melahirkan misteri-misteri lain yang – masih-- takkumengerti. Takkan kuambil apa, sebab kubiarkan terlahap segala demi menjadi aku. Sebuah peleburan yang menyadarkan kembali pada ketiadaan. Lalu aku akan mencari-cari ingatan.
Jika memang di sini kita (harus) berhenti, ada pindah yang takkusadari seberapa penting akan ini. Kita masih membahasakan tanpa mampu membinasakan. Mempelajari tiap lekuk perjalanan yang beri antar kita pada titik semestinya dan membuat kita terus sama bertanya. Pada patahan-patahan di luar jangkauan, kuasa atas segala ketiba-tibaan. Antara kita, kuat dongak dalam tundukan.
Jika memang di sini kita (harus) berhenti, aku minta diri. Pergi. Berlari. Jenuh terbunuh. Terbaring dalam peti, yang dibilang orang mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar