Hafalkan namamu baik-baik di sini. Setelah baja
dan semen yang megatur langkah kita, lampu-lampu
dan kaca. Langit hanya dalam batin kita,
tersimpan setia dari lembah-lembah di mana kau dan aku
lahir, semakin biru dalam dahaga.
Hafalkan namamu. Tikungan demi tikungan,
warna demi warna tanda-tanda jalanan yang menunjuk
ke arah kita, yang kemudian menjanjikan
arah yang kabur
ke tempat-tempat yang dulu pernah ada
dalam mimpi kanak-kanak kita. Berjalanlah merapat tembok
sambil mengulang-ulang menyebut nama tempat
dan tanggal lahirmu sendiri, sampai di persimpangan
ujung jalan itu, yang menjurus ke segala arah
sambil menolak arah, ketika semakin banyak juga
orang-orang di sekitar kita, dan terasa bahwa
sepenuhnya sendiri. Kemudian bersiaplah
dengan jawaban-jawaban itu.
Tetapi kaudengarkah swara-swara itu?
(Sapardi Djoko Damono)
Sajak tersebut merupakan sebuah peringatan dari si aku untuk pembaca. Si aku mencoba mengingatkan bahwa tak mudah seseorang itu untuk kehilangan dirinya sendiri. Kehilangan diri sendiri ini disebabkan oleh mudahnya kita terpengaruh oleh orang lain sehingga segala sesuatu yang telah kita mantapkan dalam diri kita pun harus luntur dan mengikuti pengaruh yang belum tentu memberikan keuntungan bagi kita. Si aku juga megingatkan bahwa untuk mempertahankan diri tersebut bukanlah sebuah hal yang mudah mengingat kuatnya godaan-godaan di luar diri.
Si aku meningatkan pembaca untuk mengingat namanya sendiri dengan baik-baik. Jika dilihat sepintas, ada gurauan dalam bagian ini, karena siapa yang akan sebegitu bodohnya untuk melupa pada namanya sendiri? Justru, karena nama merupakan sesuatu yang sangat melekat pada diri seseorang, si aku mencoba mempermainkannya dalam pikiran pembaca. Nama yang dimaksudkan si aku adalah diri pembaca sendiri. Si aku menyuruh pembaca untuk benar-benar tidak sampai lupa diri. Di sini, suatu tempat yang begitu maju dengan segalanya (New York). Keberhasilan yang dicapai atas usaha yang dilakukan diwakili oleh aku dengan kata “di sini”.
Untuk mencapai keberhasilan tentu tidak mudah, karena dibutuhkan usaha yang sangat keras ditambah dengan kesabaran kita dalam menghadapi rintangan menuju ke keberhasilan tersebut. Keberhasilan (di sini) dicapai dengan usaha yang keras, digambarkan si aku dengan melewati baja dan semen yang mengatur langkah, lampu-lampu dan kaca.
Langit hanya dalam batin kita, tersimpan setia dari lembah-lembah di mana kau dan aku lahir, semakin biru dalam telaga. Dalam hal ini si aku menggunakan kata “kita”, si aku tak ingin egois dengan hanya mengingatkan orang lain (pembaca) tetapi melupakan dirinya yang juga tak lepas dari godaan. Oleh karena itu, “kita” di sini telah mewakili semua orang termasuk si aku sendiri. Apalah yang lebih tinggi daripada langit? Apalah yang lebih dalam dari lembah? Dengan lantang si aku meneguhkan dirinya, seraya mengajak pembaca, bahwa kitalah yang memegang kekuasaan tertinggi atas diri kita, dan hanya kita yang benar-benar paham diri kita. Bahkan yang terdalam dari diri kita pun kitalah yang tahu, kitalah yang punya kuasa. Semakin biru, semakin dalam, yang paling dalam.
Kemudian si aku mengulang mengingatkan kembali untuk menghafal nama kita, diri kita karena tentu kita tidak mengenal tikungan demi tikungan, godaan demi godaan dalam mencapai apa yang kita cita-citakan, walaupun, tanpa kita sadari, kita sendiri telah membuat aturan sendiri dalam hidup untuk kita sendiri dalam mencapai tujuan kita, yang kita sendiri pun tidak tahu akan seperti apa. Hanya sebuah keinginan untuk mendapatkan yang terbaik demi kesenangan dan kebahagiaan hidup seperti mimpi pada masa kanak-kanak, keinginan pada masa kanak-kanak, yaitu hanya ingin bermain, bersenang-senang, tanpa harus dipusingkan oleh hal-hal yang memusingkan orang tua dalam memenuhi keinginan kita maupun hal-hal lainnya.
Jalankan usaha untuk cita-cita tersebut dengan sangat hati-hati, tentunya tanpa harus meninggalkan prinsip-prinsip yang telah ada pada diri kita, pada adat istiadat yang selama ini kita junjung, pada budaya yang kita punya. Tentunya dengan berjalan merapat pada tembok, karena di sana kita akan menemukan tumpuan untuk melangkah, dan dengan terus mengingat nama tempat dan tanggal lahirmu sendiri. Dalam perjalan ini kita akan dihadapkan dengan sebuah keputusan yang harus kita ambil dan ke arah mana kita akan berjalan. Seperti halnya pertemuan dengan persimpangan, kita harus menuju jalan mana untuk mencapai tujuan kita, sekali lagi, kitalah yang menentukan pilihan tersebut. Ketika semakin banyak orang di sekitar kita, maka semakin banyak juga pengaruh yang akan masuk ke dalam diri kita. Akan tetapi, sebanyak apapun pengaruh tersebut kita harus menyadari bahwa sepenuhnya kita sendiri, kitalah yang menentukan jalan hidup kita, memberi keputusan dalam hidup kita. Dan karena kita telah berani untuk membuat sebuah keputusan, tentunya kita harus siap dengan segala konsekuensinya, baik positif maupun negatif. Kita harus siap dengan jawaban-jawaban itu, kata si aku.
Tetapi kaudengarkah swara-swara itu? Swara, dikatakan si aku tak hanya satu tetapi banyak, hal itu berarti swara-swara dari luar maupun dari dalam diri kita, dan kita tidak bisa mengabaikan itu, karena beginilah hidup. Dan tanpa mengabaikan swara-swara tersebut si aku terus menuntut bahwa kitalah yang berkuasa atas diri kita.
Dalam pergolakan batinnya, Sapardi mencoba untuk mengangkat masalah eksistensi kita sebagai manusia., bahwa apakah itu manusia? Apakah manusia adalah kemerdekaan atau selalu terkungkung pada aturan-aturan atau selalu mengikuti orang lain?
Jean Paul Sartre, seorang filosof tentang eksistensi, mengatakan bahwa di dunia ini ada dua macam bentuk eksistensi, yaitu etre-en-soi dan etre-pour-soi. Etre-en-soi adalah suatu cara bereksistensi secara tertutup, utuh menutup dirinya seperti kita lihat pada benda-benda mati. Dia seperti sesuatu yang tertutup rapat, tidak ada celah-celah untuk melihat keluar. Karena itu, dia menyatu dengan dirinya secara massif, dia seakan-akan selesai di dalam dirinya. Dia tidak memiliki kesadaran sedikitpun, dia rapat tertutup.
Sebaliknya, etre-pour-soi merupakan cara bereksistensi secara terbuka; dia tidak massif, melainkan retak. Karena itu dia dapat melihat ke luar dan ini artinya dia memiliki kesadaran, kesadaran bukan saja tentang dunia luar tapi juga kesadaran tentang dirinya sendiri. Dia sadar bahwa dia sadar. Dia sadar bahwa dia memiliki kesadaran. Bentuk eksistensi semacam ini adalah bentuk eksistensi manusia. (Arif Budiman, 2007: 57-58)
Melirik pada pendapat Sartre bahwa eksistensi manusia adalah eksistensi terbuka, maka dapat dikatakan bahwa manusia adalah kemerdekaan. Manusia yang memilih atas keinginannya sendiri, manusialah yang membuat pertimbangan-pertimbangan sendiri sebelum dia mengambil sebuah keputusan—yang dianggapnya baik.
“…Berjalanlah merapat tembok/sambil mengulang-ulang menyebut nama tempat/dan tanggal lahirmu sendiri, sampai di persimpangan/ujung jalan itu, yang menjurus ke segala arah/sambil menolak arah, ketika semakin banyak juga/orang-orang di sekitar kita, dan terasa bahwa/sepenuhnya sendiri…” Kemerdekaan (eksistensi terbuka) yang digambarkan sapardi mengungkapkan bahwa manusia tidak menutup kemungkinannya terhadap dunia luar, tetapi tetap menyadari bahwa kita sendirilah yang akan memutuskan segala sesuatunya atas diri kita.
Dengan berani memilih, berani mengambil sebuah keputusan, berarti kita, sadar-tidak sadar, telah siap dengan segala resiko yang akan terjadi atas keputusan kita. Jika didapati nanti bahwa ternyata keputusannya adalah baik, maka nikmat akan kemerdekaan akan dapat dirasakan. Akan tetapi, jika ternyata keputusan yang diambil adalah sebuah kesalahan, maka atas dasar kemerdekaan, kita sendirilah yang akan menanggung resikonya. Hal ini dengan tegas diingatkan Sapardi bahwa “Kemudian bersiaplah dengan jawaban-jawaban itu.”
Kemudian pada baris terakhir sajaknya, Sapardi kembali mengingatkan masalah eksistensi terbuka (manusia adalah kemerdekaan). “Tetapi kaudengarkah swara-swara itu?” Sapardi menyebutkan tidak hanya sekali swara tetapi banyak (swara-swara), hal ini dikuatkan Sapardi untuk mengingatkan kembali bahwa berdasar pada eksistensi terbuka dengan kesadarannya, kita, manusia, tidak terlepas dari dunia luar tanpa meninggalkan dunia kita sendiri. Jadi, kita harus sadar dengan swara-swara, baik dari dalam diri maupun dari luar diri kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar