Suasana pagi ini menjadi sesuatu yang luar biasa bagi Saya. Mungkin bagi yang lain adalah sebuah rutinitas atas tuntutan kerja sehingga berdesakan menunggu kedatangan Busway untuk mengantarkan ke tempat kerja menjadi hal yang lumrah bagi mereka. Busway menjadi salah satu alternatif yang cukup menjanjikan untuk hal transportasi saat ini di Jakarta. Hal itu karena semakin sadarnya masyarakat yang tidak menggunakan jasa Busway untuk tidak menelusup ke jalur Busway sehingga perjalanan Busway menjadi lancar. Akan tetapi, jika dilihat ke dalam Buswaynya, akan dapat dirasakan suasana KRL di waktu yang sama, yaitu suasana yang berdesakan karena begitu padatnya muatan Busway. Hal tersebut memberikan bukti bahwa Jakarta sebagai kota Metropolitan memang berisi orang-orang yang berpacu dalam melakukan kerja sehingga harus berdesakan dan takjarang mengantre lama guna kebagian Busway tidak menjadi soal setiap harinya. Saya pun, pagi itu, mengambil peran dalam drama tersebut.
Setelah mengantre cukup lama dengan suasana yang “padat merayap”, Saya pun akhirnya mendapat jatah untuk menumpang Busway dan tentunya dengan suasana yang padat pula. Busway pun melaju. Di tengah perjalanan, Saya yang berdiri di dekat pintu yang tidak akan terbuka ketika Busway berhenti di shelter-nya sesekali melongok keluar untuk menikmati suasana Jakarta pagi ini. Yang Saya dapati ternyata tidak jauh berbeda dengan apa yang Saya saksikan di televisi bahwa macet merupakan hiasan jalan raya untuk setiap kendaraan bermotor, kecuali bagi Busway karena memiliki jalur sendiri meskipun ada juga satu-dua pengendara lain menerobos jalurnya. Sembari menikmati pemandangan tersebut dari balik jendela, Saya pun berharap tidak terlambat sampai di tujuan Saya. Keterlibatan Saya dalam drama pagi ini lantaran ada wawancara kerja di salah satu perusahaan di kawasan Sudirman. Pagi ini menjadi pagi yang luar biasa bagi Saya bukan hanya karena Saya ada wawancara kerja, melainkan juga karena biasanya Saya selalu ke luar di siang hari untuk sebuah kerja paruh waktu sehingga Saya tidak pernah (jarang) menyaksikan pemandangan ini secara langsung. Akhirnya Saya “di sini”, berdiri merapat ke pintu Busway yang tidak akan terbuka ketika Busway nantinya berhenti di shelter di antara orang-orang yang juga berpacu dengan waktu dengan keringat segar mengucur dari tubuh yang masih segar pada hari yang masih segar pula.
Harapan Saya ternyata tidak berhenti pada sebuah harap saja karena Saya tiba di lokasi wawancara tidak terlambat bahkan jauh lebih awal dari waktu yang sudah ditentukan. Kemudian Saya berpikir, mungkin Saya diberi waktu untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berhadapan dengan pewawancara nantinya. Saya setuju dengan pikiran Saya dan itu berarti bahwa pengalaman Saya tentang pagi ini akan bertambah, tentunya dengan drama yang berbeda. Bagian inilah yang akan menjadi inti dari apa yang Saya ingin sampaikan di sini.
Setuju dengan pikiran, Saya pun mencari tempat sarapan di kawasan perkantoran ini. Tentunya bukan sesuatu yang sulit untuk menemukan tempat makan di kawasan ini, melainkan yang sulit, pikir Saya, adalah melawan kecanggungan di antara orang-orang yang sudah terbiasa di sini. Akan tetapi, kesadaran bahwa belum tentu sebanyak ini orang kenal-mengenal dan bisa saja di antara mereka, beberapa di antaranya, juga bernasib sama dengan Saya pagi ini membuat Saya lebih percaya diri dan mantap mengayunkan langkah memasuki kawasan makan di kawasan perkantoran ini. Setelah mengitari sebagian kawasan makan tersebut guna menentukan sarapan yang tepat untuk pagi ini, Saya pun memutuskan Lontong Sayur sebagai sarapan yang sesuai dengan selera dan suasana pagi ini. Setelah memesan, Saya pun mencari meja yang kosong biar Saya lebih “leluasa”, tetapi nihil, taksatupun meja kosong. Akhirnya Saya menemukan satu meja dengan delapan kursi yang baru diduduki seorang bapak paruh baya. Dengan sedikit melempar senyum, Saya pun menarik kursi di ujung meja yang jauh dari bapak tadi sebagai tempat duduk Saya dan Saya pun telah berada di antara orang-orang yang berburu sarapan di pagi ini sebelum disibukkan oleh kerja nantinya. Mungkin mereka tidak sempat sarapan di rumah untuk menghindari macet atau untuk mendapatkan jatah di barisan terdepan dalam antrean Busway, pikir Saya.
Taklama pesanan Saya pun datang seiring dengan bertambahnya seorang penghuni di meja ini, yaitu seorang ibu hamil yang duduk di kursi di samping kursi yang tepat di depan Saya dengan pesanan yang sama. Lontong Sayur (yang Saya pesan tanpa sayur) pun terlahap sudah ke dalam lambung yang masih kosong pagi ini. Lalu seperti biasa, sehabis makan akan terasa kurang lengkap, bagi Saya, jika tidak merokok dulu barang sebatang-dua batang. Mengingat ada seorang ibu hamil di depan Saya, takmungkin hal tersebut Saya lakukan di sini karena takut meracuni si ibu dan janinnya, bisa jadi itu anak pertama yang sangat dinantikannya, pikir Saya. Lalu Saya mulai memikirkan tempat merokok yang pas tanpa harus keluar dulu dari kawasan ini. Dengan meliar-liarkan mata, ternyata tepat meja di sebelah Saya dengan jumlah kursi yang sama dan baru dihuni oleh dua orang Bapak yang meokok juga, di sana lebih baik, pikir Saya, meskipun tidak terlalu jauh dari ibu hamil, setidaknya Saya sudah berusaha untuk tidak meracuninya secara langsung (dengan kadar yang tinggi).
Rokok pertama pun Saya bakar setelah berpindah sembari mata Saya terus berkeliaran menikmati drama di sini yang sangat jarang Saya temukan. Sangat terlihat perbedaan kelas sosial di sini. Hal tersebut tentu hanya sebuah subjektivitas yang terlihat dari pakaian tiap-tiap orang. Ada yang mengenakan kemeja dan celana bahan bahkan takjarang dengan dasi menggantung di leher, mereka tentu para pekerja di salah satu perusahaan di kawasan perkantoran ini. Ada yang berpakaian seragam bukan kemeja bukan pula safari, melainkan seragam kaos dengan adanya nama yang tertera di bagian belakangnya, mereka adalah para pedagang makanan di kawasan makan ini. Ini sangat menarik menurut Saya, sebuah contoh yang memperlihatkan ketotalan dalam bekerja sehingga para konsumen yang datang dengan mudah mengenali para pedagang di sini. Selain itu, ada juga yang berpakaian seragam yang sewarna dan sangat khusus, mereka adalah security di kawasan ini yang terus mondar-mandir guna memantau keadaan. Terakhir, ada yang berpakain biasa saja, tanpa seragam, mereka adalah petugas parkir dan orang-orang yang kebetulan membantu kesibukan si empunya warung makan di pagi yang sibuk ini. Mereka bekerja di jalur masing-masing, sungguh sebuah drama yang rapih dan tentunya dengan sutradara yang taktertandingi sama sekali.
Semuanya berjalan masih rapih dengan kesibukkan masing-masing, baik itu dengan obrolan, makanan, maupun dengan diri masing-masing. Suasana itu tiba-tiba berubah ketika terdengar suara seorang ibu paruh baya dengan nada tinggi berbicara (mencoba memberi tahu) kepada anaknya, seorang gadis yang mungkin masih berusia empat atau lima tahun. Kira-kira dia berkata seperti ini, “Badanmu itu kecil, jangan kamu coba-coba melawan. Lihat itu! Badannya sangat besar. Kalau kamu diinjak sama dia, bisa mati kamu nanti.” Dia berkata demikian sambil berjalan ke luar dari kawasan makan dan diikuti oleh seorang security di belakangnya. Wah! Sang sutradara begitu jenius, pikir Saya, dengan sangat lihai diselipkannya adegan ini di antara adegan yang datar lainnya sehingga orang-orang pun terkejut dan langsung mengubah fokus masing-masing ke titik ini. Ada yang hanya melirik sebentar dan tidak sedikit pula yang mengikuti adegan ini dalam waktu yang lama. Ada yang hanya tersenyum, tertawa, menjadikan hal ini langsung sebagai topik obrolan baru, dan ada juga yang sampai berdiri mengikuti dengan saksama jalannya adegan ini. Dan Saya berada pada kelompok yang terakhir.
Dengan meninggalkan kursi tempat duduk yang masih dalam jangkauan pandangan dan membakar rokok batang kedua, Saya mengintip adegan tersebut dari sela-sela gerobak pedagang. Terlihat si ibu dengan anak gadisnya telah berdiri di parkiran dan security berdiri tepat di pintu masuk kawasan makan melihat ke arah ibu dan anak. Takterdengar oleh Saya perkataan si security, yang pasti suara si ibu semakin meninggi yang berkata (kurang lebih), “Apalagi Pak? Kami sudah di luar. Kenapa masih juga ditakut-takuti?” Si ibu masih terus mempertanyakan tentang security yang masih menyuruhnya pergi sementara dia sudah di luar dengan anaknya. Si ibu mungkin satu dari sekian banyak orang yang sedang berusaha bertahan hidup dengan cara apa pun. Mungkin dia belum menemukan kerja yang layak atau bermodalkan tekad dan keberanian bergabung dengan kaum urban lainnya di kota Metropolitan ini tanpa memastikan dulu lapak pijakan di sini. Hasilnya, menjadi apa yang disebut orang-orang sebagai peminta-minta adalah usaha halal guna bertahan hidup. Akan tetapi, siapa yang menyangka bahwa ternyata di kawasan ini, pagi ini, dia telah menemukan halangan dari usahanya. Bisa jadi di kawasan ini ada aturan tertentu tentang itu, tapi yang pasti Saya tidak tahu karena Saya juga pendatang baru.
Si ibu terus berkata layaknya seorang orator menanggapi apa yang baru saja menimpanya. Ditunjuknya sembarang orang di sela-sela orasinya. Sampai pada puncaknya, dibukanya dengan paksa genggaman tangan gadisnya lalu diambilnya isi genggaman si gadis, yaitu beberapa lembar uang ribuan. Si gadis hanya diam dan kebingungan dengan suasana sekitar. Si gadis mungkin belum bisa mencerna drama ini sehingga dia tidak tahu mana/siapa yang benar dan mana/siapa yang salah. Yang dia tahu hanyalah mengikuti ke mana ibu pergi sembari sesekali melihat orang-orang di sekitarnya dan tentunya melihat ke muka ibu yang belum juga berhenti berorasi. Kini, isi genggaman gadis telah berpindah ke dalam genggaman ibu. Dengan sisa tenaga yang dimiliki dan orasi yang belum juga berhenti, si ibu melemparkan isi genggamannya ke arah kawasan makan, sedangkan security yang tadi menjadi umpan adegan ini telah pergi meninggalkan pintu entah ke mana.
Paradoksal. Itulah yang terlintas dalam benak Saya bahwa kebutuhan dan peraturan terkadang menjadi dua hal yang sangat berlawanan. Peraturan adalah sebuah kebutuhan untuk menata jalannya kehidupan yang tertib dan aman, sedangkan kebutuhan akan sesuatu terkadang mengakibatkan terabaikannya sebuah peraturan. Lalu Saya mencoba mereka-reka tentang drama di kawasan makan tersebut. Si ibu merupakan seorang yang sedang berusaha bertahan hidup di antara kerasnya kehidupan. Dengan cara mengunjungi tempat makan dan mengharapkan belas kasihan dari orang-orang di kawasan tersebut, si ibu berusaha mendapatkan sesuatu untuk kebutuhannya, misalnya untuk makan. Kebutuhan tersebut dipenuhinya tentu untuk bertahan hidup ditambah pula dengan rasa tanggung jawab kepada gadis yang setia mengiringi ke mana langkahnya pergi. Akan tetapi, kebutuhan si ibu tersebut tidak dapat dipenuhinya di sini karena (mungkin) adanya peraturan yang tidak mengizinkan orang seperti si ibu untuk masuk ke dalam kawasan ini. Peraturan ini tentunya bertujuan baik, yaitu agar para pekerja yang sedang sarapan tidak “terganggu” mengingat adanya tanggung jawab yang harus diembannya sampai berakhirnya jam kerja. Walhasil, security yang bertugas menjaga ketertiban dan keamanan pun menjalankan apa yang telah diamanahkan kepadanya, yaitu dengan menjaga agar para pekerja tidak “terganggu” dalam sarapannya. Hal tersebut berarti dengan melarang si ibu untuk berada di kawasan ini.
Pada kondisi itu, konflik pun terjadi. Kebutuhan dan peraturan bersiteguh untuk tetap ada masing-masingnya. Pelaku yang memainkan peran guna mempertahankan ini tentu mendapatkan risiko masing-masing pula. Pada akhirnya, tidak ada titik temu antara dua permasalahan ini kecuali pergi dengan membawa risiko masing-masing tersebut, yaitu security mungkin merasa malu karena dalam menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawabnya telah menerima perkataan yang tidak enak dari seorang ibu yang sedang berusaha memenuhi kebutuhannya sehingga si security telah menjadi salah satu pusat perhatian di kawasan makan pagi ini dan ia memilih untuk berlalu meninggalkan si ibu dan kawasan makan, sedangkan si ibu harus melupakan pencarian akan kebutuhannya di kawasan ini karena adanya peraturan yang berlaku sehingga kebutuhan untuk bertahan hidup tersebut mewujud emosi lewat orasi dan pastinya dia menjadi pusat perhatian pada pagi ini.
Tidak terasa, rokok batang kedua pun ternyata telah hilang pada selipan dua jari dan Saya pun tersadar akan tujuan datang ke kawasan ini, yaitu wawancara yang waktunya taklama lagi akan tiba. Setelah membayar sarapan, Saya pun berjalan ke luar dari kawan makan menuju tempat wawancara. Sejenak, Saya memalingkan muka ke arah si ibu yang telah sedikit jauh dari kawasan makan. Dengan tegar, digendongnya sebuah backpack yang terisi penuh di punggung ditambah dengan sebuah tas samping yang hampir sama besarnya dengan backpack dan terisi penuh pula yang digantungkan di bahu. Dengan menyisiri trotoar, si ibu yang berbaju hijau dengan beban lahir dan batin yang berat menggandeng erat anak gadisnya yang berbaju hitam, yang seharusnya asik bermain dan belajar bersama teman-teman sebayanya di sekolah, berjalan menjauhi kawasan makan. Saya perhatian kedua punggung itu menjauh dan menjauh hingga akhirnya hilang ditelan pagi. Saya pun berbalik dan berjalan menuju tempat wawancara sembari berputar-pikir tentang drama apalagi yang akan hadir setelah ini.
Mei 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar