Kita pernah akrab dalam sementara. Saling telanjang sampai liar dapat bentang segala. Takada kuasa waktu beri batas pada yang kita laku. Yang kita tau: pacu laju dan hilangkan batas pada siang, pada malam, pada apa yang takperlu orang segala tahu. Kita tembus kabut. Takut menjadi dekat bagai sahabat yang siap memagut kala kita kalut. Dan arah seolah memancing kita punya amarah hingga terus saja kita cercah.
Kita seperti berkongsi dalam emosi. Lalu sepakati bahwa mendiami adalah suatu bentuk meditasi untuk menarik diri kembali. Itu terjadi meskipun takjarang kita salah dalam memberi arti. Setelah itu, kita sama tersadar bahwa hidup adalah sebuah pengejaran sehingga kita lepaskan segala bentuk kelambanan.
Kita punya jiwa takingin penat hanya saja badan lebih sepakat untuk tidak bersepakat. Lalu sebentar kita berehat biar kuat ke depan membebat. Cukuplah itu untuk beri jawab segala yang orang tanya. Setelah itu, kita bermantap-yakin dengan derap langkah untuk karya. Ah! Semesta serasa pasrah untuk kita jamah.
Terkadang, kanak kita muncul tanpa perlu kita ingat pada umur. Lalu satu dari kita harus segera menjadi dewasa untuk bikin seimbang pada kita. Dan kita hanya bisa tertawa, bahkan di balik kepala. Sungguh hal biasa yang begitu luar biasa. Bukan mengada-ada, melainkan fakta yang takperlu dicari bukti untuk dipercaya. Terkadang pula, kita sama seolah takmau mengalah untuk menjadi dewasa. Berkeras kepala dan serahkan saja kanak pada waktu yang tanak hingga keduanya melunak.
Pernah juga kita sekali-dua tersandung pada yang takdiminta. Cuma pada yang akhir kita taksanggup menjadi kebal, mungkin karna cukup bertahan pada bebal. Aku tidak menyesal, hanya kesal pada diri yang takberdaya menyangkal. Hingga di sinilah kita kini. Merapat pada garis final. Lalu mengagungkan bahwa hidup adalah sebuah kesempatan untuk saling kenal sebelum kita benar-benar taklagi mengenal. Haruskah kuucapkan “selamat tinggal”?
Depok, Juni 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar