Datang juga kelam. Beri antar malam dengan bulan setengah mengatung di ujung ilalang. Takjauh benar pandang. Hanya ngiang begitu riang mengitar dan menelusup. Dingin bukan lagi dapat patut diaju tanya, melainkan telah laku hingga habis biar ke mana juga hendak mencari. Pelan saja, detak pada detik merangkak dan melebur-larut dalam runut nada. Tanpa beri sedikit sempat ‘tuk merasa liris atau miris. Tersentak dan tersedak, sebentar lagi lain gerak (me-)tampak.
Sementara itu, takada yang tersapu kecuali sapuan itu sendiri yang meronta bagaikan baja dan menggeliat bagaikan kilat. Terus menjurus seperti takingin benar dapat urus. Lalu membiar saja yang bisa tanpa memeduli mampu menepis segala. Kuat mengendap dalam pekat. Celah mengalah.
Memula lagi. Juga tutur-gemutur yang seolah beri gaya pada gagang biar keluar adanya. Teriak terka semakin menipiskan kuasa. Takada pegangan sekitar beri sedia untuk setia. Lumpuh juga dalam harap duduk megah lagi gagah atas pelana sembari memacu dalam tuju yang jauh dari tentu. Hanya tentang yang tajam tinggal tetap (saja). Mengisi lorong kosong nan begitu nirsuara. Menjalar dan mendampar, namun merapat pun tidak sama sekali.
Gemanya antara derap dan siap. Ambil pusing saja karna kaku pada apa yang mau dilaku. Sekali tengadah taklama kembali jengah dan menanah. Bungkam dibalut awan menunggu urai menengarai tanpa perlu turut badai. Dan ‘moga dari satu ke satu tumbuh untuk apa yang diberi nama hidup. Sampai kering segala peluh dan ditimbun dengan/oleh peluh.
Depok, Juni 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar